Sabtu, 13 April 2013

TUGAS MATA KULIAH KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI

 MODEL DAN PERILAKU ORGANISASI





Mata Kuliah:
Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

Dosen Pembimbing:
Dr. Hari Sunaryo, M.Si.




















Disusun oleh:
1.      Umi Kulsum    Nim. : 201210240211080
2.      Supaat             Nim. : 201210240211056







MAGISTER KEBIJAKAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013





BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pada dasarnya manusia hidup tidak dapat lepas dari organisasi. Oleh karena itu, dalam sebuah organisasi penting sekali memahami perilaku individu atau kelompok dalam suatu organisasi. Perilaku organisasi (PO) merupakan bidang ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan tentang bagaimana manusia berperan atau berperilaku atau bertindak di dalam organisasi (Davis&Newstrom, 1995). Dengan demikian, perilaku organisasi merupakan bagian penentu keberhasilan suatu organisasiuntuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka pembahasan tentang perilaku organisasi perlu dilakukan agar suatu organisasi mampu mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dalam makalah ini akan diuraikan beberapa materi yang berkaitan dengan model, motif dan perilaku individu atau kelompok dalam suatu organisasi.
B.  Rumusan Masalah
  Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumudkan menjadi beberapa hal:
1.         Apa  sajakah model dan perilaku dalam suatu organisasi?
2.         Apa sajakah Motif dan Perilaku Individu dan Kelompok dalam Organisasi Kelompok?

C.  Tujuan Penulisan
                 Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang teori tentang model dan perilaku individu atau kelompok.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Model dan Perilaku Organisasi
                Menurut Davis dan Newstorm (1995) , ada empat model perilaku organisasi yang menunjukkan evolusi pemikiran dan perilaku pada bagian manajemen dan manajer. Empat model atau kerangka kerja organisasi adalah:
  1. Otokratis – Dasar dari model ini adalah kekuatan dengan orientasi manajerial otoritas. Para karyawan pada gilirannya berorientasi terhadap ketaatan dan ketergantungan pada bos. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah subsisten. Hasil kinerja minimal.
  2. Kustodian – Dasar dari model ini adalah sumber daya ekonomi dengan orientasi manajerial uang. Para karyawan pada gilirannya berorientasi pada keamanan dan manfaat dan ketergantungan pada organisasi. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah keamanan. Hasil kinerja adalah kerjasama pasif.
  3. Mendukung – Dasar dari model ini adalah kepemimpinan dengan orientasi manajerial dukungan. Para karyawan pada gilirannya berorientasi terhadap prestasi kerja dan partisipasi. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah status dan pengakuan. Hasil kinerja terbangun drive.
  4. Kolegial – Dasar dari model ini adalah kemitraan dengan orientasi manajerial kerja sama tim. Para karyawan pada gilirannya berorientasi ke arah perilaku yang bertanggung jawab dan disiplin diri. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah aktualisasi diri. Hasil kinerja adalah antusiasme moderat.                 
Penjelasan masing-masing dari keempat model tersebut dapat dilihat pada table berikut ini:

Autokratis
Kustodial
Suportif
Kolegial
Dasar model
Kekuasaan
Sumber daya ekonomi
Kepemimpinan
Kemitraan
Orientasi manajemen
Wewenang
Uang
Dukungan
Kerja tim
Orientasi pegawai
Kepatuhan
Rasa aman dan maslahat
Prestasi kerja
Tanggung jawab
Dampak psikologis bagi pegawai
Bergantung pada boss
Bergantung pada organisasi
Keikutsertaan
Disiplin diri
Kebutuhan pegawai yang terpenuhi
Nafkah hidup
Rasa aman
Status dan pengakuan
Perwujudan diri
Hasil prestasi
Minimum
Kerja sama pasif
Penyadaran
Antusiasme moderat

B.                      Motif dan Perilaku Individu dan Kelompok dalam Organisasi Kelompok
1.    Motivasi Dalam Organisasi
1)   Menurut Walgito (2002) Motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau tomove yang berarti kekuatan dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif sebagai pendorong tidak berdiri sendiri tetapi saling terkait dengan faktor lain yang disebut dengan motivasi.
2)   Menurut Caplin (1993) motif adalah suatu keadaan ketegangan didalam individu yang membangkitkan, memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju pada tujuan atau sasaran. Motif juga dapat diartikan sebagai tujuan jiwa yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya (Woodworth dan Marques dalam Mustaqim, 1991).
3)   Sedangkan menurut Koontz dalam Moekjizat (1984) motif adalah suatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan, yang menggiatkan atau menggerakkan, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan-tujuan tertentu.
4)   Menurut Gunarsa (2003) terdapat dua motif dasar yang menggerakkan perilaku seseorang, yaitu motif biologis yang berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan motif sosial yang berhubungan dengan kebutuhan sosial. Sementara Maslow A.H. menggolongkan tingkat motif menjadi enam, yaitu: kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan seks, kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri (dalam Mahmud, 1990).
5)   MC. DOnald (dalam Hamalik, 1992) menjelaskan motivasi sebagai suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurutnya terdapat tiga unsur yang berkaitan dengan motivasi yaitu:
a.         Motif dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, misalnya adanya perubahan dalam sistem pencernaan akan menimbulkan motif lapar.
b.        Motif ditandai dengan timbulnya perasaan (afectif arousal), misalnya karena amin tertarik dengan tema diskusi yang sedang diikuti, maka dia akan bertanya.
c.         Motif ditandai oleh reaksi-rekasi untuk mencapai tujuan. Menurut Terry (dalam Moekjizat, 1984) motivasi adalah keinginan didalam diri individu yang mendorong individu untuk bertindak. latihan atau kegiatan lainnya yang menimbulkan suatu perubahan secara kognitif, afektif dan psikomotorik pada individu yang bersangkutan.
2.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
1.      Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang berupa sikap, kepribadian, pendidikan, pengalaman dan cita-cita.
2.      Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri yang terdiri dari :
a)    Lingkungan sosial, yang meliputi lingkungan masyarakat, tetangga, teman, orangtua/keluarga dan teman sekolah.
b)   Lingkungan non sosial meliputi keadaan gedung sekolah, letak sekolah, jarak tempat tinggal dengan sekolah, alat-alat belajar, kondisi ekonomi orangtua dan lain-lain.

Menurut Stephen Robbins (2012:11), perilaku organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki individu, kelompok dan struktur terhadap perilaku dalam berorganlisasi kyang bertujuan meningkatkan  keefektifan suatu organisasi. Dalam proses berjalannya suatu organisasi tidak bisa terlepas dengan perilaku individu, karena organlisasi merupakan sekumpulaln individu yang membentuk kelompok dengan visi misi yang sama. sedangkan Perilaku individu dalam Gibson (1995:125) adalah perilaku atau interaksi yang dilakukan oleh manusia  atau individu di lingkungannya, perilaku setiap individu sangatlah berbeda dan hal ini dipengaruhi oleh lingkungan dimana individu tersebut tinggal, perilaku yang berbeda mengakibatkan berbedanya kebutuhan setiap individu, untuk itu perlunya suatu organisasi agar kebutuhan yang berbeda tersebut dapat terpenuhi dengan bekerja sama antar individu. Perilaku individu akan membentuk pada perilaku organisasi.
Dalam berorganisasi individu memiliki perannya masing-masing, perilaku individu dalam berorganisasi diantaranya:
1.  Produktifitas kerja
2.  Kepuasan kerja
3.  Tingkat absensi
4.  Tingkat turnover

3.      Perbedaan Individual
Perbedaan individual berasal dari perbedaan sifat yang dimiliki oleh setiap individu yang berasal dari pengaruh lingkungan yang berbeda, dan itu merupakan sifat manusia yang tidak dapat dipungkuri, karena manusia memiliki perbedaan perilaku maka kemampuan  yang dimiliki pun berbeda sehingga setiap manusia membutuhkan kerjasama antara satu dengan yang lainnya agar dapat mencapai tujuan dari masing-masing individu tersebut, dengan kata lain dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun setiap individu mempunyai perbedaan namun pada hakikatnya mereka bisa bersama atau bersatu dalam mencapai tujuan yang berbeda dalam suatu wadah yang biasa disebut organisasi. Robbin (2006).
Untuk memahami perilaku individu dapat menggunakan pendekatan yang dikelompokan menjadi tiga pendekatan, yaitu:
1.             Pendekatan kognitif adalah bahwa suatu perilaku oleh suatu rangsangan, dimana perilaku individu terjadi atau timbul dikarenakan adanya rangsangan sehingga timbulah respon atas rangsangan tersebut, contohnya jika kita bertemu dengan teman dan kemudian dia bersikap baik terhadap kita tentu saja kitapun akan bersikap baik pula.
2.             Pendekatan penguatan  adalah bahwa suatu perilaku dipengaruhi oleh gerakan reflex yang digerakan oleh system syaraf motorik yang ada di otak kita, contohnya jika tangan kita  terkena api maka secara otomatis kita menjauhkan atau menarik tangan dari api tersebut.
3.             Pendekatan  psikoanalitis  adalah bahwa perilaku dipengaruhi oleh kepribadiannya, sedangkan individu yang memiliki pribadi yang baik adalah individu yang telah matang yaitu orang yang dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya dan lingkungannya, orang yang tidak semata-mata mementingkan kepentingan pribadinya saja melainkan mementingkan kepentingan lingkungannya. Studi mengenai perbedaan individu seperti sikap, persepsi dan kemampuan membantu seorang manajer dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat kinerja.  Ada beberapa poin yang harus dipahami  dari sebuah perilaku sebagaimana dijelaskan dalam Gibson (1998:126) yakni:
1.        Perilaku adalah akibat
2.        Perilaku diarahkaln oleh tujuan
3.        Perilaku yang bisa diamati dapat diukur
4.        Perilaku yang tidak dapat secara langsung diamati (misalnya, berfikir dan mengawasi) juga penting dalam mencapai tujuan.
5.        Perilaku dimotivasi/didorong.

PERILAKU INDIVIDU DAN SUMBANGAN BERBAGAI DISIPLIN KEILMUAN
    Perilaku Kelompok Dalam Organisasi
Perilaku Organisasi merupakan suatu bidang studi yang menyelidiki dampak oleh individu, kelompok dan struktur terhadap perilaku didalam organisasi, kemudian menerapkan pengetahuan tersebut agar organisasi itu bekerja dengan lebih efektif. Khususnya organisasi perilaku memfokus pada bagaimana memperbaiki produktivitas, mengurangi kemangkiran dan tingkat keluarnya karyawan dan meningkatkan kepuasan kerja. Menurut Robbins dan Colter (2003) bahwa kelompok adalah gabungan atau kumpulan dua atau lebih individu yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu.
Kelompok menurut Robbin (2003) adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut . Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

Kelompok Formal dan Informal dalam organisasi

Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.
Kelompok Formal – Kelompok ini dibangun selalu akibat dari pola struktur organisasi dan pembagian kerja. Contohnya, pengelompokan kegiatan-kegiatan pekerjaan yang relatif serupa ke dalam satu kelompok. Kelompok ini merupakan hasil dari sifat teknologi yang diterapkan perusahaan dan berhubungan dengan cara bagaimana suatu pekerjaan dilakukan. Kelompok juga terjadi tatkala sejumlah orang pada tingkat atau status yang sama dalam organisasi memandang diri mereka sebagai satu kelompok. Contoh, kepala-kepala departemen suatu perusahaan industri baja, atau kepala-kepala dinas suatu kabupaten, atau guru-guru.  Kelompok formal tercipta untuk mencapai tujuan organisasi. Kelompok ini sangat memperhatikan aspek kegiatan kerja yang terkoordinasi. Orang-orang disatukan bersama berdasar peran yang telah ditentukan di dalam struktur organisasi. Sifat pekerjaan adalah aspek dominan dari kelompok formal. Sasaran pekerjaan kelompok tersebut diidentifikasi oleh manajemen. Setelah sasaran ini dibentuk, segera menyusul pembentuk aturan-aturan, hubungan, dan norma perilaku di kelompok tersebut. Kelompok formal cenderung permanen, kendati terdapat perubahan keanggotaan aktualnya. Kendati demikian, kelompok formal temporer ini juga diciptakan oleh manajemen, misalnya pembentukan tim-tim berorientasi proyek dalam organisasi yang bercorak matriks. Kelompok kerja formal dapat dibedakan lewat sejumlah cara, semisal berdasar keanggotaan, tugas yang dilakukan, sifat teknologi, atau posisi di dalam struktur organisasi.
Kelompok Informal – Di dalam struktur organisasi formal, selalu terdapat struktur informal. Setiap struktur organisasi formal, khususnya seputar sistem hubungan peran, peraturan, dan prosedur di antara para anggotanya, akan ditanggapi oleh penafsiran dan pengembangan para pekerja di tingkat informal. Kelompok informal pembentukannya lebih didasarkan pada hubungan dan persetujuan informal di antara para anggota kelompok ketimbang hubungan peran yang telah ditentukan manajemen. Hubungan informal tersebut dibentuk untuk memuaskan kebutuhan sosial dan psikologis para anggota kelompok, sehingga tidak mesti berhubungan dengan tugas-tugas organisasi yang harus mereka laksanakan. Kelompok mungkin saja menggunakan aneka cara demi memuaskan afiliasi anggota dan motivasi sosial lainnya yang dianggap kurang tersedia di dalam situasi kerja organisatoris. Kelompok informal ini utamanya banyak terentuk dalam organisasi industri. Keanggotaan dalam kelompok informal dapat bersifat lintas struktur formal. Mereka terdiri atas individu yang berasal bagian organisasi yang berbeda ataupun tingkatan yang berbeda pula, baik vertikal, diagonal, maupun horisontal. Kelompok informal dapat bercorak serupa dengan kelompok formal, ataupun bisa pula terdiri atas sebagian kelompok formal. Anggota kelompok informal mengangkat pemimpin informalnya sendiri yang nantinya menjalankan otoritas dengan persetujuan dari para anggota. Pemimpin informal biasanya dipilih berdasarkan kriteria kemampuan seseorang dalam mewakili nilai dan sikap para anggota, membantu menyelesaikan konflik, memimpin kelompok untuk memuaskan kebutuhannya, atau bernegosiasi dengan manajemen atau orang lain di luar kelompoknya.
Robbins menyebut sejumlah klasifikasi kelompok, yang menurutnya terdiri atas : (1) Kelompok Komando, (2) Kelompok Pekerjaan, (3) Kelompok Kepentingan, dan (4) Kelompok Pertemanan. Kelompok 1 dan 2 ada dalam ikatan kelompok formal, sementara kelompok 3 dan 4 ada dalam ikatan kelompok informal.
1.             Kelompok Komando ditentukan oleh bagan organisasi. Ia terdiri atas bawahan yang melapor langsung pada manajer tertentu. Kepala sekolah SD berikut 12 gurunya membentuk kelompok komando dalam mensupervisi seluruh guru. 2.
2.             Kelompok Pekerjaan juga ditentukan secara organisasional, mewakili orang-orang yang bekerja secara bersama guna menyelesaikan pekerjaan. Kendati begitu, batasan di dalam kelompok pekerjaan tidak hanya pada atasan langsungnya secara hirarkis. Ia bisa lintas hubungan komando antar departemen. Misalnya, jika seorang mahasiswa dituduh dalam kasus kriminal, kasus tersebut membutuhkan komunikasi dan koordinasi diantara Pembantu Ketua, Senat Mahasiswa, BAK, bagian keamanan, dan Penasehat Akademik. Bentuk koordinasi tersebut membentuk kelompok pekerjaan. Harus dipahami, seluruh kelompok komando juga merupakan kelompok pekerjaan, tetapi karena kelompok pekerjaan dapat lintas organisasi, maka kelompok pekerjaan tidak otomatis dianggap kelompok komando.Orang yang tergabung ke dalam kelompok komando ataupun kelompok pekerjaan bisa terafiliasi dengan suatu tujuan spesifik yang menarik perhatiannya. Jika tarikan untuk berafiliasi yang didasarkan atas kepentingan ini terjadi, maka kelompok yang terbentuk adalah
3.              kelompok kepentingan. Pekerja yang tergabung bersama guna menggagas piknik (kepentingan rekreasi), membela rekannya yang dipecat secara tidak hormat (kepentingan keamanan posisi), atau mencari tunjangan perusahaan (kepentingan ekonomi) merupakan bentuk kegiatan kelompok kepentingan.
4.             Kelompok juga kerap dibangun akibat adanya kenyataan bahwa para anggota secara individual punya satu atau beberapa karakteristik yang sama. Ini bisa disebut kelompok pertemanan. Kesetiaan sosial, yang kerap meluas hingga keluar lingkungan kerja, dapat didasarkan pada, kesamaan usia atau asal-usul etnis, dukungan pada kesebelasan Manchester United, atau kesamaan garis politik selaku pendukung Partai Keadilan Sejahtera. Kelompok informal menyediakan fungsi penting dengan memuaskan kebutuhan sosial anggotanya.
Berikut adalah alasan mengapa orang bergabung ke dalam kelompok








BAB III
PENUTUP

A.    Simpilan
                Menurut Davis dan Newstorm (1995) , ada empat model perilaku organisasi yang menunjukkan evolusi pemikiran dan perilaku pada bagian manajemen dan manajer. Empat model atau kerangka kerja organisasi adalah:
1.      Otokratis
2.      Kustodian
3.      Mendukung
4.      Kolegial
                 Dalam suatu organisasi visi misi atau tujuan merupakan bagian yang paling penting. Dengan adanya tujuan pelaku dalam organisasi dapat termotivasi untuk melakukan pekerjaan sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal.

B.     Saran
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang model dan perilaku organisasi, sehingga dapat dijadikan sebagai referensi untuk menjalankan suatu organisasi.













DAFTAR PUSTAKA

Davis, Keith., dan John W. Newstrom. (1995). Perilaku Dalam Organisasi. Edisi Ketujuh. Terjemahan. Jakarta : Erlangga.

Ivancevich D, Gibson. (1995). Organisasi. Jakarta: Binarupa aksara.

Molan, Benyamin.(2006). Perilaku Organisasi. Jakarta: Gramedia.

Robbin, Stephen P. (2003).  Organizational Behavior, Thent Edition. New Jersey: Pearson   Education, Inc. alih bahasa

Thoha, Miftah. (1983).  Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




2 komentar:

  1. Artikelnya bagusss...
    Pemimpin memiliki peran yang sangat vital dalam organisasi. Jadi hidup sebuah organisasi tergantung dari kualitas pemimpinnya.
    Sekedar ingin berbagi aja, barangkali bisa menambah sedikit referensi mengenai kualitas kepemimpinan yang dapat dijadikan teladan.
    Klik --> Makalah Peran Kepemimpinan di Martha Tilaar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya dalam sebuah organisasi pemimpin akan memberi warna dan menjadi alasan kemana organisasi akan dibawa, sukses atau gagalnya organisasi tergantung pada seorang pemimpin. Terima kasih telah mengunjungi blogs ini... Semoga bermanfaat.

      Hapus